Ketua Piala Dunia menegaskan dalam kurun waktu kurang dari satu tahun lagi, ajang sepak bola kelas internasional Piala Dunia segera diselenggarakan. Antusiasme dalam menyambut Piala Dunia FIFA 2022 dirasakan baik oleh penggemar maupun pemain.

Pertanyaan mengenai hak asasi manusia (HAM) masih terus berlanjut di negara tuan rumah sendiri Qatar. Nasser Al Khater menjadi kepala eksekutif di dalam penyelenggaraan turnamen kali ini memberikan pernyataan.

Dirinya telah memberikan pernyataan panitia di Qatar juga telah memberikan perlakuan adil. Tidak ada kata tidak adil, sejak negara mereka telah mendapatkan hak menjadi tuan rumah turnamen 11 tahun lalu.

Dari Al Khater sendiri juga memberikan pernyataan jika untuk ajang Piala Dunia sendiri juga banyak dilakukan pengawasan. Sejumlah pengawasan tersebut, tentu saja membuat setiap gerakan dilakukan juga harus diperhitungkan kembali.

Kemudian melihat dari masa lalu, juga keadaan ini menjadi pertimbangan panting. Di mana dalam mengambil keputusan harus berdasarkan keadaan terbaik dan sudah sesuai terhadap keadilan terhadap hak asasi manusia.

Ketika terdapat perubahan positif, maka dari pemerintah juga akan memberikan dukungan. Perubahan tersebut, dapat berdampak baik kepada negara sendiri, apa lagi di dalam penyelenggaraan turnamen besar kali ini.

Di dalam kritikus, juga menyatakan jika ini merupakan pertama kalinya ajang sepak bola internasional Timur Tengah. Maka dari itu, akan ada banyak hal baru ditemukan ketika nantinya laga telah dimulai.

Ketua Piala Dunia, Qatar dan Tekanan Perlakukan Terhadap Pekerja Migran

Selama hampir satu decade ini, di Qatar sendiri sedang terdapat tekanan terhadap para pekerja migran. Seperti yang sudah diketahui dengan baik, jika mereka sedang menyelesaikan pembangunan beberapa stadion.

Hal tersebut, tentu saja dipersiapkan sedemikian rupa untuk menyambut ajang pertandingan sepak bola kelas internasional nantinya diadakan. Pembangunan stadion tersebut masih dalam proses penyelidikan secara lebih lanjut.

Dari Organisasi Buruh Internasional (ILO) juga masih terus melakukan penyelidikan serta pelaporan ketat. Mereka mencari tahu penyebab dari kematian secara tiba – tiba pekerja yang berada di lapangan tersebut.

Keadaan ini, tentu saja memperlihatkan jika hak asasi manusia pada negara tersebut juga masih harus dipertanyakan. Di mana banyak pekerja asing mengalami kematian secara mendadak ketika sedang bekerja.

Pada awal tahun Barun Ghimire juga mengajak seorang pengacaran HAM untuk berkerja sama. Berbasis dai Kathmandu, mereka berfokus untuk ekspolitas migran Nepal yang bekerja di luar negeri.

Dikatakan diambil dari pernyataan diberikan kepada CNN jika nasib buruh Nepal sangat menyedihkan. Pekerja yang berada di teluk dikatakan sangat memprihatinkan, kondisi tersebut sangat tidak baik untuk migran.

Banyak pekerja dari negara – negara miskin, pergi ke Qatar untuk mendapatkan pekerjaan. Namun di dalam bekerja benar – benar berdarah – darah untuk menyelesaikan agenda Piala Dunia 2022.

Tidak Hanya Qatar Yang Disalahkan?

Dari Ghimire memberikan pernyataan jika tidak hanya negara tuan rumah saja yang harusnya disalahkan. Dari beberapa pemerintah negara lain seperti Nepal juga harus ikut serta dalam bertanggung jawab.

Mereka tidak memberikan perlindungan yang layak terhadap rakyat di negara mereka. Sehingga tujuan pekerja hanyalah untuk menjadi pekerja saja, tanpa mendapatkan perlindungan dari negara mereka sendiri.

Dari laporan diberikan, ILO mengatakan setidaknya ada sekitar 50 pekerja Qatar meninggal. Hal tersebut terjadi pada tahun 2020 lalu namun dikatakan masih ada perbedaan pengumpulan data dilakukan.

Simpang siurnya data didapatkan tersebut, juga tidak memberikan kejelasan terhadap kondisi terkini. Keadaan ini juga menghalangi organisasi untuk menyajikan angka kategoris jumlah kecelakaan kerja fatal yang mungkin terjadi.