Negara Asean Sulit Bersaing di Piala Dunia – Piala Dunia merupakan salah satu ajang sepak bola paling bergengsi di dunia. Di dalam perlombaan tersebut hadir negara-negara yang memiliki kualitas sepak bola mempuni. Untuk bisa tampil menjadi juara di Piala Dunia memang bukan perkara yang mudah.

Perjalanan untuk menuju ke sana memang memerlukan kerja keras, terlebih bagi negara-negara di kawasan Asia. Terdapat beberapa alasan mengapa negara Asia hingga saat ini masih sulit untuk bisa bersaing dalam Piala Dunia.

Mengapa Negara Asean Sulit Bersaing di Piala Dunia?

Mentalitas Lemah

untuk bisa menjadi juara, mindset dan mentalitas merupakan hal yang sangat perlu untuk diperhatikan. Mindset pemegang otoritas dan juga publik sepakbola di Asia masih lebih mengutamakan hasil pertandingan yang instan jika dibandingkan proses berkesinambungan dan terstruktur.

Anda dapat melihat di sini bagaimana sebagian besar publik kawasan Asia, khususnya untuk wilayah Asia Tenggara, merespon mengenai hadirnya kejuaraan kelompok dengan level benua yang begitu heboh melebihi Piala Dunia.

Belum lagi budaya senioritas yang melekat di dalam mentalitas kawasan Asia juga menjangkiti dunia sepakbola. Budaya ikut-ikutan merupakan penghalang utama untuk menuju kesuksesan dalam jangka panjang.

Hal itu akan menghilangkan esensi dari pertandingan sebagai olahraga yang menghormati kesetaraan. Karena itulah, hal yang paling penting pertama di sini adalah membangun mindset dan juga mentalitas dari para pemain di wilayah Asia, khususnya untuk Timnas Indonesia.

Investasi yang Kurang

Salah satu dari sekian banyak miliarder yang ada di wilayah Asia yang diketahui melakukan investasi di liga-liga Eropa yaitu Syech Mansour. Hanya sedikit dari negara Asia yang memperhatikan aspek mengenai investasi jangka panjang di dalam pengembangan dunia sepak bola.

Mayoritas pembinaan hanya diarahkan untuk mencari hasil kemenangan dan bukan proses pengembangan skill individu. Hari ini banyak penguasa Asia membanjiri papan iklan klub-klub besar yang ada di liga top atau menjadi pemilik grup itu sendiri. Namun terdapat kekurangan yaitu investasi tersebut justru tidak terasa di negara mereka berasal.

Bahkan untuk Negara Cina sendiri liga mereka yang dikenal liga termewah di kawasan Asia harus memikirkan ulang skema mengenai pembayaran pemain mewah oleh karena pandemi yang menerpa, sehingga belum dapat memikirkan aset lain seperti pemasaran dan pembinaan grup secara global.

Negara di kawasan Amerika Utara dan Eropa telah melangkah jauh dengan investasi yang lebih terstruktur untuk melakukan pengembangan sepak bola dalam jangka waktu yang panjang. Hal itu berbeda dengan wilayah Asia yang masih dalam kecepatan lambat dan belum tampak begitu signifikan.

Leadership yang Kurang

Mungkin Anda akan menemukan sosok Marcelo Bielsa di wilayah Amerika latin yang mendobrak tatanan taktik sepak bola dunia. Atau tokoh lain yaitu Rinus Michels yang menemukan taktik Total football. Lalu bagaimanakah dengan kawasan Asia?

Jawabannya adalah tidak ada sama sekali selain merelakan diri untuk jadi lebih ditinggal secara taktik dengan benua tetangga, seperti Amerika serikat yang saat ini sudah mulai menghadirkan nama pelatih jempolan.

Tim nasional yang ada di kawasan Asia realitanya masih sangat tergantung dengan para pelatih yang didatangkan dari negara lain. Belum ada inovasi yang cukup berarti di negara-negara Asia mengenai gaya dan taktik kepemimpinan dari para pelatih hasil didikan mereka.

Itulah yang akhirnya membuat Timnas negara wilayah Asia kurang mampu bersaing dengan Timnas negara Eropa ataupun benua lainnya.